FSC atau SVLK

Beberapa Sertifikat kayu yang sekarang ini banyak diminati adalah FSC dan SVLK. Masing-masing mempunyai kelemahan dan kelebihannya sendiri.

FSC COC

Adalah sertifikasi CoC yang mensyaratkan sumber bahan bakunya dari hutan yang telah tersertifikasi Forest Management (FM). Perusahaan yang menerapkan system ini akan mendapatkan sebuah sertifikat, dan jika diterapkan, bisa menggunakan logo FSC pada productnya (logo on product). Dalam strata CoC system, FSC menduduki urutan paling atas. Ada tiga pilihan yang dapat diterapkan, yaitu FSC Pure (100%), FSC Mixed (bahan bakunya campuran dari FSC dan Controlledwood) dan FSC Recycled (bahan baku dari bekas / daur ulang). Kelemahannya adalah karena bahan baku harus dari hutan yang bersertifikat FM, maka akan kesulitan dalam mencari bahan baku, sehingga pada suatu saat nanti harus impor, yang tentunya menambah cost.

Selain itu harus ada pemisahan dan penandaan di setiap simpul proses mulai dari gudang bahan baku sampai gudang barang jadi.

Untuk FSC Recycled, bahan baku berasal dari dua kelompok, yaitu bekas penggunaan (post-cosumer reclaimed) dan bekas kayu baru / belum digunakan (pre-consumer reclaimed). Untuk sumber bahan baku FSC Recycled di Indonesia ini masih melimpah. FSC Recycled ini paling banyak dipakai oleh kalangan industri saat ini.

Kelebihannya adalah bahwa sertifikat FSC telah diterima di semua negara, Amerika, Eropa dll. Selain itu tidak disyaratkan legalitas yang komplit seperti svlk dan perusahaan tidak “disuruh” untuk berhubungan dengan Dinas/Instansi Pemerintah. Proses yang diaudit adalah pada saat penerapan, bukan satu tahun yang lalu sehingga administrasi tidak begitu rumit.

SVLK (SISTEM VERIFIKASI LEGALITAS KAYU)

Sertifikat ini ada unsur wajib dari pemerintah sehingga program pemerintah yang berkaitan dengan industri wajib dimasukkan seperti K3, Peraturan Perusahaan yang harus mendapat pengesahan dari Disnaker setempat, Dokumen Lingkungan Hidup yang dibuat oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Laporan Mutasi Kayu yang setiap bulannya harus dilaporkan ke Dinas Kehutanan. Intinya adalah bahwa perusahaan harus “conect” dengan instansi pemerintah (kebanyakan pada waktu lalu belum “conect”). Hal inilah yang menimbulkan beban biaya tambahan. Selain itu, karena proses yang diaudit adalah proses satu tahun kebelakang, sehingga untuk perusahaan yang administrasi dan kelengkapan dokumennya asal-asalan akan kerepotan.

Sekarang ini, telah dikeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap pemegang izin untuk mengantogi SVLK. Baca Peraturan Terbaru SVLK 2014.

FSC atau SVLK?

Pertanyaan tersebut sering muncul pada sebagian besar pengusaha. Sebenarnya keduanya mempunyai tujuan dan fungsi masing-masing. SVLK adalah persyaratan agar bisa ekspor, sedangkan FSC adalah persyaratan agar produk lebih diminati di pasar (terutama Eropa). SVLK = syarat pengiriman, FSC = syarat penjualan.

Namun dari dua sertifikat tersebut, yang perlu dimiliki terlebih dahulu adalah SVLK. Sedangkan FSC lebih baik menunggu permintaan Buyer jika ada.

Info lebih lanjut bisa hubungi :

KIRMANTO

Kendal – Jawa Tengah

HP : 085 226 325 170 (Telkomsel)

085 740 349 242 (Indosat)

email : kirmanto@gmail.com

Pin BB : 7DC23DC5

5 Comments »

  1. 1
    sumeri Says:

    bagus dan informasinya akurat

  2. makasih infonya gannn….

  3. 3
    frans Says:

    Untuk produk label paper (Sticker) dan release liner apa perlu sertifikasi fsc? terima kasih

  4. 4
    kholik72 Says:

    ijin monitor gan… makasih..

  5. 5
    Birran Fata Says:

    Informasi yang sangat membantu, salut untuk Penulis


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: