FSC Controlled Wood

kayu1Panduan Implementasi FSC Controlled Wood 

 A. Pastikan Kayu Bukan Dari Ilegal Loging

1.    Lengkapi bukti-bukti IJIN PENEBANGAN , seperti Surat Ijin Tebang dan dokumen pemilikan yang sah.

  • Penebangan harus sesuai dengan RENCANA yang telah disetujui oleh pejabat yang berwenang
  • Penuhi PEMBATASAN yang dipersyaratkan, Penebangan harus sesuai dengan rencana yang disetujui seperti Volume, Jenis dan  Batas diameter

2.   LOKASI TEBANG harus sesuai dengan :

  • Ijin tebang yang dilengkapi dengan PETA penebangan yang telah disetujui pejabat yang berwenang dan penebangan dikawasan hutan lindung
  • Harus ada system atau tanda untuk menelusuran kayu yang memadai untuk melacak hingga ketunggaknya dan tanda-tanda yang jelas seperti patok, pematang atau tanaman pagar

 3.   Dokumen Penjualan Kayu harus ada. Penjualan kayu harus sesuai dengan  Invoice dan ada nama, alamat pembeli, tanggal penerbitan Invoice, uraian product yang dijual Jumlah, referensi ke nomor angkutan

4.    Harus ada kesesuain Pembayaran ROYALTI dan RETRIBUSI dengan bukti pembayaran PPB dari pemilik pohon.

5.    Tidak boleh ada jenis kayu yang dibeli masuk dalam kayu yang dikategorikan sebagai kayu CITES.

6.    Dokumen Transport Kayu harus ada, yaitu dokumen pengiriman kayu seperti SKSKB, SKAU, FAKO dan lampirannya LENGKAP pada saat kayu dikirim ke supplier dan ke pabrik

B.   Tidak boleh ada penebangan yang melanggar hak-hak masyarakat setempat

1.    Tidak boleh ada larangan bagi pekerja untuk berserikat dan melakukan bergaining terhadap hak-hak kolektifnya.

2.    Tidak ada pemaksaan dalam bekerja

3.   Tidak mempekerjakan anak dibawah umur

4.   Tidak ada diskriminasi di tempat kerja misalnya gender, suku, agama dan lain-lain

5.   Ada Perjanjian Kerja Bersama diantara pengusaha dan pekerja

6.  Tidak boleh ada perselisihan yang melibatkan banyak pihak yang berkepentingan baik itu masyarakat sekitar maupun suku asli terkait dengan pemilikan maupun penggunaan lahan.

7.  Apabila ada konflik seperti yang tersebut dalam butir 6, harus ada proses dokumentasi yang menunjukkan komitmen yang kuat dari manajemen untuk menjamin bahwa konflik dapat diselesaikan yang diakomodir dalam prosedur penyelesaian sengketa yang meliputi : identifikasi konflik, mekanisme penyelesaian yang efektif dan melibatkan multi pihak.

C.   Tidak menebang pohon pada hutan yang memiliki nilai konservasi tinggi, seperti hutan lindung, taman nasional, cagar alam dan suaka marga satwa.

1.   Harus ada dokumen penilaian keberadaan HCVF yang sesuai dengan ukuran organisasi, misalnya sensus satwa liar, penilaian dampak lingkungan dll.

2.   Ada bukti konsultasi dengan pihak terkait, termasuk dengan masyarakat setempat dalam melakukan identifikasi keberadaan HCVF

3.   Tidak boleh ada perusakan terhadap nilai-nilai HCVF yang teridentifikasi tersebut

D.  Penebangan pada kawasan Hutan yang akan dikonversi menjadi perkebunan atau Areal Penggunaan Lain :

1.   Harus ada bukti konversi dari hutan ke perkebunan atau budidaya non kehutanan lainnya ( kalau ada akomodir dalam Kebijakan Lingkungan )

2.   Konversi dilakukan pada ruang lingkup kecil  dari unit management, konversi pada HCVF dan memberikan manfaat sosial dan lingkungan yang lebih luas terhadap unit management unit  ( kalau ada lengkapi dengan AMDAL yang baik )

E.   Penebangan pada Hutan Tanaman hasil Rekayasa Genetika

Harus ada pengembangan hutan tanaman hasil rekayasa genetika diarea unit Management ( kalau ada harus diakomodir dengan Kebijakan lingkungan )

Standart FSC Controlled Wood dapat diunduh disini

4 Comments »

  1. 1
    handoko Says:

    Kalau penggunaan sisa sisa pokok kayu dan akar misalnya dari akar jati di daerah cepu, itu termasuk ke controlled wood atau masuk implementasi yang mana di FSC, thx

  2. 3
    Gianto Setiadi Says:

    Saya ingin mendapatkan penjelasan tentang perbedaan antara FSC FM CoC dengan FSC FM CW:
    – apa yang menjadi alasan ada 2 standard seperti ini?
    – apakah ada perbedaan perlakuan terhadap industri berikutnya, seandainya mereka mendapatkan bahan baku dari perusahaan pemegang FSC FM CoC dan FSC FM CW?
    Terima kasih

  3. 4
    taryono putranto Says:

    beda FM/COC dan CW, adalah pada pengelolaan hutannya, secara prinsip cw ridaj ada keharusan rencana penggelolaan hutan didalam dokumentasinya sednag FM mengharuskan.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: